National Museum Bangkok

PROMO PAKET BANGKOK !

National Museum Bangkok

 

Bangkok National Museum diresmikan oleh King Rama V, yang pada mulanya difungsikan untuk menyimpan dan memamerkan koleksi pribadi dan koleksi dari sang ayahanda, King Rama IV (Raja Mongkut). Saat itu, pada 1887, Raja memindahkan Royal Museum yang sebelumnya berada di Paviliun Concordia (di Grand Palace) ke eks Istana Wang Na.
National Museum ini m menempati lahan Istana Wang Na, garda depan Grand Palace, yang dibangun untuk sang putra mahkota pada 1782.

The Palace of The Front ini menjadi tempat tinggal dari 5 Viceroy (deputy king), semacam pangeran atau putra mahkota yang biasanya dipilih dari saudara raja. Ke-5 Viceroy tersebut adalah:
• Viceroy Maha Surasinghanat (1782-1803)
• Viceroy Maha Senanurak (1809-1817)
• Viceroy Maha Sakdi Polsep (1824-1832)
• Deputy or Second King Pinklao (1851-1865)
• Viceroy Wichaichan (1868-1865)

Diawali dengan perjalanan di aula Sivamokhaphiman, pengunjung bisa melihat berbagai macam benda peninggalan sejak jaman Sukothai hingga jaman Rattanakosin. Banyak sekali benda-benda yang bisa dilihat disini, sehingga pengunjung dapat membayangkan kehidupan pada masa dahulu. Museum yang dibuka oleh raja Rama V untuk mengenang warisan pemberian ayahnya ini, juga terdapat ruangan benda arkeolog yang berisi artifak sejak jaman pra-sejarah hingga jaman Sukhotahai dan Ayutthaya. Di dalamnya, pengunjung bisa menemukan koleksi senjata china, emas, boneka, keramik, tekstil, hingga batu-batu langka peninggalam masa terdahulu. Ada pula beberapa koleksi hasil karya Silpa Bhirasri. Selain itu, hal menarik yang bisa dirasakan pengunjung disini adalah instrumen musik tradisional Asia Tenggara yang bisa didengarkan di ruang koleksi.
Sebenarnya, museum ini sempat tidak terurus. Saat itu, museum ini memamerkan koleksi-koleksi yang berdebu. Namun kini, semuanya terlihat menarik dan rapih. Sehingga, pengunjung akan dapat memahami budaya masa lalu melalui keterangan berbahasa inggris yang tertulis dalam deskripsi benda sejarah.
Museum dibagi ke dalam beberapa gedung yang masing-masing memiliki temanya sendiri-sendiri.
gedung paling depan, Sivamokhaphiman Hall yang difungsikan sebagai Gallery of Thai History. Gedung ini memuat koleksi-koleksi bersejarah dari era Sukhothai hingga Rattanakosin, dari Lanna hingga Bangkok kemudian. Di ruang pamer pertama ini, ada banyak patung-patung Buddha dan dewa-dewi dengan berbagai pose, wayang / boneka-bonekaan, topeng, dan artefak-artefak lainnya. Tepat di samping Gallery of Thai History, berdiri reception hall bernama Phra Thinung Phutthaisawan (biasa disebut Kapel Phutthaisawan) yang kini difungsikan sebagai sebuah kapel Buddhist. Di dalamnya terdapat tiruan Phra Singh Buddha yang berada di tengah altar.

Beralih ke bagian yang lebih dalam, bangunan berwarna bergaya ala Tionghoa yang dibalut dengan warna merah pucat. Namanya adalah Tam Nak Daeng, warna dan gaya arsitekturnya tampak mencolok di tengah kungkungan bangunan-bangunan ala Thai di sekitarnya. Di sini dipamerkan kereta-kereta kencana dan atribut royal lainnya yang dipergunakan untuk pemakaman keluarga kerajaan. Melihat kereta pemakaman kerajaan juga menjadi nilai tambah bagi siapa saja yang mengunjungi museum ini. Kereta ini biasa digunakan untuk melakukan kremasi anggota kerajaan. Pengabadian warisan benda sejarah tidak hanya sampai disitu, pengunjung juga bisa melihat-lihat arsitektur bangunan tradisional Thailand misalnya Tam Nak Deang (biasa disebut dengan rumah merah) dan kuil Budha.

Lepas dari Royal Funeral Chariots, gedung 4 Praphat Phiphitthaphan Building, yang menyimpan artefak-artefak Lanna, Sukhothai, Ayutthaya, hingga Rattanakosin yang sebagian besar berupa patung-patung Buddha dalam berbagai pose. Issara Winitchai Hall Temporary Exhibition Gallery, yang sebenarnya merupakan bagian dari Gedung 5. Namun sayang bagian-bagian lain di belakang tidak dibuka. Di sini dipamerkan kain-kain tradisional Thai dari beberapa provinsi dan suku. Motifnya serupa dengan batik atau motif-motif kain tradisional lainnya di Indonesia. Sepertinya, motif-motif seperti itu memang lazim ditemukan di daerah-daerah Asia Tenggara. Serupa, namun tak sama.
Biaya masuk untuk Bangkok National Museum adalah 200 THB, sekitar Rp 80.000,00 pada saat itu, 1 THB setara dengan 400 IDR. Tiket dapat dibeli di sebuah pos kecil di sudut kiri depan kompleks. Fasilitas guide berbahasa inggris sudah biasa didapatkan di museum ini secara gratis karena mereka biasanya adalah sukarelawan. Pemandu berbahasa jerman tersedia hanya hari kamis. Sementara pemandu berbahasa Perancis dan Jepang akan bisa ditemukan pada hari rabu.